Penulis adalah pendusta?

Wed Sep 08 2021 12:52:48 GMT+0000 (Coordinated Universal Time)

Setiap kita adalah penulis. Ya, penulis di media sosial kita, di status-status WA kita, di Twitter, Facebook, caption Instagram, blog, hingga tulisan love-love di secarik kertas yang kemudian direbut anak-anak putra (hehehehe...)

Karena setiap kita adalah penulis, maka tentunya sifat kita akan melekat pada tulisan yang kita tuliskan. Di tulisan itulah kita tampak sebagai seorang pemberani atau penakut, orang yang berjuang keras maupun malas-malasan, orang yang disiplin maupun mageran.

Tapi, yang paling nampak dari tulisan kita adalah kedustaan kita. Kok bisa?

Karena kita tak mungkin menulis jika tak berdusta.

Eh.

Jadi gini, kita menulis bahwa keseharian kita sangatlah menyenangkan, orang-orang berbuat baik, menyapa kita, lalu kita menceritakan berbagai pengalaman yang mengisi hari-hari indah kita hingga akhirnya matahari terbenam. Namun, terkadang kenyataannya tidaklah seperti itu. Mungkin saja hati kita sedang mendung, pikiran kita ruwet, dada serasa ditindis langit, dan berbagai rasa tak menyenangkan lainnya.

Lantas, mengapa kita menuliskan bahwa kita bahagia?

Setidaknya, ada beberapa alasan:

  • Untuk menunjukkan bahwa kita bahagia
  • Berusaha mengingkari perasaan kita saat ini
  • Ingin mengabadikan memori-memori indah di kehidupan yang membosankan

Ada sih aku bahas di artikel sebelumnya bahwa semakin dewasa kita, kehidupan rasanya semakin membosankan.

Nah, ada harapan-harapan yang ingin kita raih; baik itu berupa kasih sayang dari orang terdekat, kehidupan yang nyaman, makanan enak, kasur empuk, rumah teduh, senyuman dari orang terdekat kita, dan berbagai hal yang kita inginkan.

Tapi terkadang, harapan-harapan itu hanya sebatas imaji kita yang tak mewujud. Lalu, apa yang kita lakukan? Menuliskannya.

Pertanyaan sederhananya: Mengapa tak coba mengikhlaskannya dan menceritakannya apa adanya?

Secara teori memang mudah. Namun, ketika aku terjun langsung ke lapangan, mengamati berbagai fenomena psikologis manusia-manusia tentang interaksinya dengan jeritan-jeritan masa lalu, yang namanya mengikhlaskan masa lalu itu tidaklah mudah. Apalagi menceritakan apa adanya. Akan selalu ada luka yang menggores dalam alam bawah sadar kita. Hingga kita selalu memberontak, ingin harapan-harapan mewujud dalam pandangan mata. Tapi, apa daya, hanyalah debu harapan yang beterbangan di dalam otak yang kemudian luluh lagi, terjatuh, ke alam bawah sadar yang tak tau di mana ujungnya.

Harapan; itulah kunci atas setiap kedustaan yang dituliskan.

Mudah sekali Guru Gembul berucap bahwa sejarah (masa lalu) sebaiknya diceritakan apa adanya. Kalau baik, ya diceritakan baik, kalau buruk ya diceritakan buruk.

Namun, jika hal itu secara langsung berkaitan dengan diri kita secara kolektif maupun secara personal, akan sangat sulit melakukannya. Kita akan memilih jalan berdusta demi membuat diri kita merasa nyaman dan "mengelak" dari "kenyataan" yang sebenarnya.

Penulis adalah pendusta
~ Opening anime 5 Detik Langsung Gelut di Muse Indonesia

Buat yang mau donasi untuk kelangsungan komunitas Echlus, silahkan transfer ke halaman donasi kami.

Wah, ngeri juga ya disebut pendusta. Dalam perspektif berbeda, bisa jadi yang selalu menuliskan kebaikan karena kebaikan pula yang diharapkan kembali padanya. Apalagi, menularkan aura positif itu berpahala. ☺️
waw